Menakar Potensi Karbon Indonesia Sebagai Material Masa Depan

Para wise reader masih ingat dengan artikel dengan judul Pengenalan Singkat “Karbon” dan Potensinya untuk Indonesia? Tak terasa tulisan itu telah lima tahun bertengger di laman web ini. Lalu, apakah sudah ada perubahan terkait perkembangan industri karbon tanah air?

Bahkan, tak hanya tulisan lima tahun lalu, Alumni Teknik Material ITS di Taiwan juga pernah menelurkan output diskusi mereka ke publik, yang salah satunya berisi tentang rekomendasi perkembangan industri karbon, pada tahun 2019. Nah, kali ini penulis ingin sekali lagi memberikan brief refreshment tentang industri tersebut untuk masa depan Indonesia.

Prolog

Di tengah gempuran isu perubahan iklim dan transisi energi global, Indonesia menyimpan satu potensi yang kerap luput dari sorotan: material karbon berbasis biomassa. Dari hutan tropis hingga limbah pertanian, negeri berjuluk Zamrud Khatulistiwa tersebut kaya akan sumber daya yang bisa diolah menjadi material fungsional—bukan sekadar arang dapur, tapi material strategis untuk pengembangan teknologi tinggi dan tepat guna.

Sumber karbon dari biomassa yang berlimpah di Indonesia
Sumber karbon dari biomassa yang berlimpah di Indonesia, dapat berupa tempurung kelapa, kulit dan sekam padi, bonggol jagung, ampas tebu, serbuk kayu, limbah sawit, hingga sampah rumah tangga berupa sisa makanan, dedaunan, dll. | Sumber: Hasil generate lewat prompt yang disodorkan ke Microsoft Copilot.

Sumber-sumber berlimpah tapi terlupakan

Indonesia memiliki beragam sumber-sumber bahan yang dapat diolah menjadi karbon, antara lain:

  • Tempurung kelapa dan serbuk gergaji kayu yang dihasilkan oleh industri meubel
  • Sekam padi, tongkol/bonggol jagung, dan limbah ampas tebu
  • Limbah organik perkotaan dan sisa panen hutan tanaman industri (contoh: sawit)
  • Sampah plastik pun juga dapat dimanfaatkan

Berbagai macam sumber karbon tersebut, jika diproses lebih lanjut melalui pirolisis atau karbonisasi yang tepat, dapat menghasilkan karbon aktif, biochar, hingga karbon berukuran nano yang dapat berguna untuk berbagai aplikasi, dari mulai industri kosmetik hingga penyimpan daya.

Dari proses-proses yang disebutkan di atas tersebut, Indonesia telah menghasilkan berbagai bentuk karbon:

  1. Briket arang: untuk energi rumah tangga dan industri kecil
  2. Biochar: untuk perbaikan tanah dan penyerapan polutan
  3. Activated carbon: digunakan dalam filtrasi air dan udara
  4. Nanocarbon dan graphene: mulai dikembangkan untuk aplikasi elektronik dan baterai

Meski sebagian besar masih dalam skala laboratorium atau pilot project di Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), akan tetapi, jika dikelola secara serius, potensi komersialisasi serta kemungkinan menjadi komoditas ekspornya sangat besar. Karena disadari atau tidak, pasar internasional butuh karbon berkualitas tinggi untuk berbagai aplikasi.

Industri karbon dan litbang material maju

Industri karbon di Indonesia masih didominasi oleh sektor energi dan pertanian. Namun, arah baru mulai terlihat. Beberapa universitas dan lembaga riset terpadu seperti BRIN telah mengembangkan karbon dari biomassa lokal untuk aplikasi sensor, elektroda, dan komposit ringan.

Bahkan, di salah satu publikasi terbaru, biochar dari limbah plastik dan biomassa tropis Indonesia memiliki performa tinggi dalam penyimpanan energi dan remediasi lingkungan. Bahkan, karbon quantum dots dari limbah plastik juga telah dikembangkan peneliti Indonesia untuk sensor Fe(III).

Namun, tantangan terbesar adalah kurangnya integrasi antara riset dan industri. Banyak hasil litbang belum masuk ke tahap hilirisasi. Padahal, dengan dukungan kebijakan dan insentif, Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam material karbon global.

Salah satu aplikasi paling menjanjikan adalah penggunaan material berbasis karbon (karbon aktif, grafit, grafena, dll.) sebagai pendukung material elektroda dalam baterai ion litium, ion natrium, superkapasitor, dsb. Bahkan beberapa jenis karbon dari biomassa memiliki struktur pori dan konduktivitas yang cocok untuk anoda baterai ion litium, superkapasitor, baterai ion natrium, dan masih banyak lagi. Pembahasan ini bisa dikembangkan lebih jauh lagi secara tersendiri. Bahkan sudah dibahas sebagian juga pada Bab XI di buku berjudul TRANSISI ENERGI 2050 INDONESIA: JALAN MENUJU MASA DEPAN BERKELANJUTAN – Menilik Realisasi Transisi Energi Indonesia di Masa Depan.

Kita bisa lihat proyek ekosistem baterai listrik yang baru saja diresmikan di Karawang oleh Presiden Prabowo Subianto. Langkah tersebut menunjukkan bahwa Indonesia cukup serius berkomitmen untuk membangun rantai pasok baterai dalam negeri. Ini juga seharusnya bisa menjadi kesempatan industri karbon lokal bisa naik kelas dan menjadi bagian penting dari ekosistem ini.

Epilog: Tantangan dan Jalur Menuju Masa Depan

Meski potensi besar, pasar produk karbon di Indonesia masih sepi peminat. Kebanyakan hanya sebagai produk habis pakai pembakaran (arang, briket, dll.). Hal-hal krusial seperti kebutuhan litbang untuk menaikkan nilai tambah, minimnya edukasi kepada pelaku usaha menuju arah beyond bricket and charcoal, serta kurangnya insentif, membuat pelaku industri enggan berinvestasi pada produk yang membutuhkan litbang serius semacam ini. Padahal, karbon bukan hanya soal membungkus narasi emisi, seperti stereotype kebanyakan, tapi juga tentang material strategis masa depan.

Untuk itu, perlu:

  • Kebijakan insentif litbang dan hilirisasi (ini kata-kata favorit pemerintah kan?) untuk industri karbon
  • Kemitraan antara akademisi, industri, dan pemerintah (triple helix approach)
  • Pendidikan publik tentang potensi nilai tambah produk beyond bricket and charcoal untuk pembakaran
Ilustrasi yang menggambarkan hubungan ideal universitas, industri, dan pemerintah
Ilustrasi yang menggambarkan hubungan ideal triple helix. Universitas sebagai simbol penggerak litbang, lalu industri yang meningkatkan TKT. Terakhir, ada pemerintah yang memberi fasilitas policy, funding, dan iklim kolaborasi strategis. | Sumber: Hasil generate lewat prompt yang disodorkan ke Microsoft Copilot.

Sebenarnya Indonesia punya semua bahan baku dan talenta yang dibutuhkan. Akan tetapi, leapfrog industri padat litbang seperti pengembangan produk karbon berkualitas sangat diperlukan. Hal itu dapat dicapai dengan sedikit dorongan dan kemauan politik serta visi jangka panjang berbasis teknologi. Bukankah Indonesia telah lama bercita-cita menjadi negara yang berdikari di berbagai bidang? Kenapa tidak dimulai dengan teknologi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *