Bagi yang sudah hafal dan sering bersinggungan, pasti sudah paham jika Eropa memiliki skema pendanaan proposal yang sistematis bernama HORIZON. Baik Program Horizon 2020 (H2020) maupun Horizon Europe (HEU), kriterianya masih mirip. Nah, kali ini penulis akan coba spill tipis-tipis hasil penilaian proposal berbasis HEU yang baru saja diumumkan akan didanai dalam waktu dekat.
Prolog
Seperti post yang ada di atas, proyek ini pada dasarnya dialihkan kepemimpinan pembuatannya dari kolega lebih senior di perusahaan ke penulis ketika progress awalnya ada di fase 10-15%. Kalau diingat-ingat, bulan Juni 2024, yang sudah selesai adalah pengumpulan core partners (3 perusahaan dan 2 research technology organisation/RTO) dari seantero Eropa. Ditambah dengan 5 slide deck mentah berupa konsep mentah proyek yang ingin dijadikan proposal. Mengingat Proposal Call yang akan dijadikan tujuan pendaftaran ada di bawah naungan HEU Innovation Action (IA) yang harus melibatkan mayoritas perusahaan (>70%) dan meminimalisir kampus (maksimal 30%) sebagai anggota konsorsium. Hal tersebut dikarenakan untuk pencapaian TRL-nya harus di sekitar 7, dan bahkan 8 sebagai targetnya.
Bahkan untuk perusahaan hanya boleh mengklaim 60% dana dari European Commission (EC) yang biasanya untuk proyek berbasis energi dan iklim akan dipegang oleh European Climate, Infrastructure and Environment Executive Agency (CINEA). Sebagai contoh, jika total dana yang dibutuhkan oleh satu perusahaan setelah perhitungan detail proposal adalah 1.000.000 EUR untuk menjalankan keseluruhan proyek, maka yang akan diterima dari EC via CINEA hanya 600.000 EUR. Sisanya harus dipenuhi secara mandiri dari internal keuangan perusahaan. Sedangkan untuk kampus dan RTO, berapapun total dana yang diajukan dalam proposal maka akan bisa menerima 100% dananya.
Nah, menariknya proposal yang diajukan sejalan dengan peta jalan (roadmap) ekspansi perusahaan tempat penulis bernaung (di Belgia) ke Republik Bulgaria di beberapa tahun ke depan. Oleh karenanya, meski harus menanggung 40% pendanaan secara mandiri, maka itu bukan jadi masalah berarti. Nama proyeknya, sesuai dengan post di atas, adalah STELLAR. Idenya tentu saja dari penulis. Tapi dipilih lewat mekanisme voting pasca mengalahkan 3 opsi lainnya. Dengan inspirasi dari film legendaris Interstellar, dan juga arti dalam bahasa Indonesia: “bintang”. Harapannya agar proyek tersebut bersinar terang seperti masa depan, eh, seperti bintang-bintang maksudnya.
Tiga kriteria utama penilaian
Setidaknya ada tiga kriteria penilaian yang dicanangkan oleh EC. Di bawah ini, penulis sajikan daftar kriterianya sekaligus rincian skor hasil penilaian yang didapatkan oleh STELLAR.
- Excellence, skor: 5/5
- Impact, skor: 5/5
- Quality and efficiency of the implementation, skor: 4/5
Excellence
Untuk excellence, setidaknya harus memuat hal-hal menarik (compelling) tapi masih mengacu pada koridor program yang dideskripsikan oleh European Commission (EC). Di sini di-breakdown jadi 3.
- Kejelasan dan relevansi proposal terhadap tujuan besar yang diterapkan EC. Bahkan kalau ada ambisi beyond state of the art yang dibenturkan dengan kondisi pasar dan potensi komersialisasi, akan menambah kekuatan dari proposalnya untuk diperhitungkan lebih lanjut.
- Feasibility study dari metodologi yang akan diterapkan. Di sini ceritanya harus match antara konsep dasar, model dan pendekatan yang ditawarkan, asumsi aplikatif, keterlibatan bidang multidisiplin, serta gambaran pengambilan keputusan untuk pengelolaan hasil riset aplikatif yang disodorkan (mekanisme publikasi, pembuatan demonstrator, kontrol kualitas dari output, serta keterkaitan antara industri-kampus-pemerintah Eropa-masyarakat. Termasuk end-user teknologi yang ditawarkan.
- Keikutsertaan masyarakat dalam merasakan dampak hasil/output inovasi yang ditawarkan. Juga, ada poin penting dari desain gender equality dalam penerapan proyeknya nanti.
Impact
Dalam kriteria kedua, ada setidaknya dua sub-kriteria lagi:
- Kredibilitas dari jalur yang ingin dijadikan sebagai pendekatan dalam mencapai keberhasilan proyek. Di sini dibahas desain dari mulai technology readiness level (TRL) berapa untuk saat ini. Lalu di tengah-tengah proyek nanti meningkat jadi berapa. Dan pada akhirnya ekspektasi TRL jadi berapa. Sebagai contoh: lab-scale itu ada di TRL 3-4. Sedangkan pilot line itu TRL 5-6. Purwarupa dan pengujian lanjut berada di TRL 7-8, dan 9 ke atas = market ready.
- Kesesuaian konsep yang ingin dicapai di akhir dengan breakdown puzzle kerja yang ditawarkan. Ini dimaksudkan untuk menilai lebih jauh tentang work package (WP). WP adalah anak tangga. Penilaiannya adalah apakah WP mendukung tujuan akhir dengan kolaborasi antarpartner, atau justru hanya retorika. Penilaiannya unik, karena dihubungkan dengan rencana aktivitas communication and dissemination (C&D). C&D dapat berupa scientific journal (open access), konferensi, pre-print, open-code (semacam di GitHub), serta rencana eksploitasi konkret berupa intellectual property/standardisasi.
Quality and efficiency of the implementation
Nah, kriteria pamungkasnya dibagi jadi 2 lagi. Diantaranya ada:
- Kontrol efektivitas konsep berdasarkan foreseen risk atau risiko yang dirasa mungkin akan jadi ganjalan di masa depan. Tentunya dilengkapi mitigasi rencananya yang ditawarkan. Tahap penilaian ini mulai merambah kesesuaian budget tiap partner dalam konsorsium vs. beban kerja yang direncanakan untuk jadi tanggung jawabnya. Bahkan penilaian terhadap kemampuan partner juga masuk, fasilitas yang dimiliki, % peran untuk menyukseskan proyek, dll.
- Terakhir, berhubungan erat dengan penilaian kemampuan tiap partner dan fasilitas yang dimiliki. Penilaian atau survey khusus yang dilakukan EC kepada perusahaan/kampus/lembaga riset yang tergabung dalam konsorsium. Selain fasilitas yang dimiliki, EC juga akan mengacu pada database. Sebagai contoh, apakah perusahaan A dengan peran sebagai X di proyek telah sesuai dengan lini bisnis mereka. Tujuan dari EC detail di poin ini adalah agar tidak ada missmanagement dari expertise masing-masing partner dalam konsorsium.
Alasan mengapa STELLAR lolos

Jadi, kok bisa STELLAR mendapatkan penilaian setinggi itu (14/15)?
Dari perspektif Excellence
EC secara detail menjelaskan dalam dokumen berjudul Evaluation Summary Reports (ESR).*) Proposal yang kami susun punya relevansi yang tinggi untuk meng-handle permasalahan pengembangan baterai Eropa. Terutama untuk produksi material anoda di Eropa yang didesain untuk baterai generasi 4b, 4c, dan 5. Generasi baterai-baterai tersebut berkaitan erat dengan solid-state battery dan beyond Li-ion, meski masih pakai anoda litium dalam bentuk logam.
*)Disclaimer: Dalam tulisan ini tidak ada satu pun informasi confidential yang dibagikan tanpa izin dari internal perusahaan maupun konsorsium. Dan sebisa mungkin penulis mengupayakan informasi yang ada di artikel ini adalah informasi yang sifatnya publik.
Kalau di POV impact dan yang ketiga?
Selanjutnya untuk impact, kami menawarkan koneksi antarlembaga secara seamless. Partner-partner dari perusahaan akan memanfaatkan pilot line dan laboratorium canggih mereka untuk mencapai tujuan dalam proposal proyek STELLAR. Sedangkan partner dari universitas dan lembaga riset (RTO) akan menawarkan talent-talent mereka. Bisa dari mahasiswa Master dan Doctor, serta Postdoctoral Fellow potensial yang mereka naungi untuk melakukan aktivitas R&D. Pemerintah Eropa lewat EC-CINEA akan berperan sebagai penyedia dana dan jejaring utama. Serta masyarakat Eropa (termasuk di dalamnya anggota Batteries European Partnership Association/BEPA) sebagai penerima social upgrade dari kegiatan diseminasi keilmuan selama proyek berlangsung.
Nah, untuk kriteria ketiga, proposal proyek STELLAR tidak bisa mendapatkan perfect score. Karena menurut EC cara yang kami tawarkan di dalam proposal untuk menyajikan hasil aktivitas R&D ke masyarakat masih belum imbang. Maksudnya balancing antara yang sensitive atau private (hanya di-spill ide umumnya saja) vs. yang public. Bagi mereka para penilai dari EC hal tersebut adalah shortcoming. Tapi bagi kami, intellectual property dan sensitive information penting untuk dilindungi dan masuk ranah private. Apalagi dalam konsorsium yang terdiri dari lebih banyak partner perusahaan di dalam konsorsium. Jadilah proyek STELLAR kehilangan satu poin, atau tidak bisa mendapatkan perfect score 15/15.
Epilog
Sudah ada gambaran belum?
Setidaknya segini dulu spill kriteria penilaiannya ya! Kalau nanti dirasa ada hal yang ingin didiskusikan lebih jauh, jangan sungkan untuk meninggalkan jejak di kolom komentar. Bahkan kalau mau mengajak penulis untuk berkolaborasi juga boleh. Mungkin saja cocok untuk menjadi future partner di konsorsium proyek negara-negara Eropa berikutnya.
Oh iya, kalau menurut wise reader sekalian pembahasan seperti ini menarik, kemungkinan besar akan ada spill-spill hal serupa semacam ini lagi nanti. Bisa jadi dari perspektif jalur Proposal Call selain HEU. Entah mungkin dari Innovation Fund, Renewable Energy Financing Mechanism, Connecting Europe Facility, LIFE Programme, dll.
Sampai jumpa lagi di artikel selanjutnya!






Leave a Reply