Program Makan Bergizi Gratis (MBG) nampaknya bukan hanya eksperimen sosial berskala nasional. Jika kita telaah lebih jeli, program ini adalah challenge terbesar bagi ekosistem rekayasa material, manufaktur, dan standar produksi yang harus dihadirkan di Indonesia. Dengan kebutuhan hampir 83 juta food tray untuk setiap siklus distribusi makanan, pertanyaan fundamentalnya bukan lagi sekadar bagaimana memproduksi food tray, tetapi bagaimana menjadikannya sebagai trigger untuk meningkatkan kualitas dan kesiapan industri lokal Indonesia. Tak hanya rantai pasoknya yang harus cukup stabil, aman, higienis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara scientific & engineering.

Stainless Steel vs. BPA-free Polymer
Gagasan tentang rantai pasok pengadaan food tray MBG ini menarik. Terutama ketika kita menyadari bahwa food tray MBG bisa disiasati menjadi dua kubu material besar: stainless steel dan BPA-free polymer. Mungkin saat ini yang sedang hype di awal adalah stainless steel atau baja tahan karat. Tapi bukan tidak mungkin untuk mengejar efisiensi, kedepannya tinjau ulang untuk material food tray akan dipertimbangkan untuk bergeser atau berpadu. Baik stainless steel maupun polimer punya cerita teknologi, tantangan material, dan filosofi keberlanjutan (sustainability) yang berbeda.
Food tray dari baja tahan karat sebagai produk rekayasa industri unggulan
Di kanal-kanal media arus utama, Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa standar untuk food tray MBG wajib menggunakan stainless steel 304 (SS304) dengan ketebalan tertentu. Ini bukan pilihan sembarangan, bahkan untuk standar nampan food grade internasional, setidaknya harus memiliki tebal lebih dari setengah sentimeter, atau sesuai dengan standar ketat yang berlaku di negara-negara tertentu. SS304 adalah paduan yang stabil, non‑reaktif, tahan korosi, dan sudah lama menjadi material standar untuk industri makanan global.
Untuk Indonesia, ketentuan dan standar ketat ini memiliki tantangan manufaktur teknis tersendiri. Di antaranya adalah:
- Deep drawing quality (DDQ) sulit terpenuhi. Dilansir dari berbagai sumber, banyak produsen-produsen di Indonesia kesulitan memenuhi standar DDQ tersebut. Karena selain mahal, lembaran baja yang diproduksi di dalam negeri masih terlalu tebal atau tidak cukup ulet untuk proses deep drawing untuk membentuk lekukan tray. Produsen lokal akhirnya masih bergantung pada beberapa bahan baku impor.
- Kapasitas produksi lokal yang belum tersalurkan secara nasional. Meski berbagai produsen dalam negeri telah menyatakan siap memberikan suplai untuk food tray MBG sejak awal 2025, akan tetapi hingga jelang akhir 2025 pemakaian food tray produksi lokal baru sekitar 15% dari total kebutuhan nasional. Meski mungkin perencanaan kapasitasnya sudah memenuhi.
- Kasus impor ilegal. Investigasi nasional menemukan sebagian besar food tray yang diimpor dari luar negeri memakai SS201, gagal uji logam berat dari BPOM, bahkan ada indikasi penggunaan lard oil dalam pelumas produksinya. Masalah‑masalah ini menegaskan urgensitas traceability dan standardisasi ketat yang wajib dipenuhi, bukan opsional.
Jika kita memandang hal ini dari perspektif engineering, food tray MBG membawa kita pada realitas bahwa material food-grade bukan seharusnya sekadar labeling, tetapi hasil dari serangkaian proses produksi secara metalurgi, kimia, serta proses manufaktur logam yang presisi dan terstandardisasi. Dalam konteks MBG, food tray bukan lagi merupakan produk rumah tangga biasa. Food tray MBG telah berubah menjadi industrial hardware untuk keperluan pemenuhan gizi nasional.
BPA-Free Polymers sebagai opsi material ringan, reusable, dan recyclable
Sementara material stainless steel unggul pada daya tahan dan kekuatan, BPA-free polymer memberikan penawaran berbeda:
- Lebih ringan
- Murah
- Relatif aman
- Mudah dalam proses desain yang ergonomis
- Ekonomis untuk produksi massal, dan masih banyak lagi jika digali lebih lanjut.
Sudah banyak pemasok dalam negeri yang berkomitmen dan memposisikan diri sebagai produsen wadah makan berbahan polimer food-grade, BPA-free, reusable, dan eco-friendly yang sanggup memenuhi permintaan ribuan unit food tray MBG per hari. Pada perspektif tertentu, penggunaan material polimer sangat rasional:
- BPA-free polymer seperti polypropylene (PP) menawarkan solusi terhadap masalah kontaminan kimia yang ditemukan pada beberapa tray stainless steel impor ilegal.
- Proses manufaktur polimer seperti injection molding jauh lebih cepat dibanding proses produksi metal forming yang digunakan pada food tray SS304, cocok untuk diterapkan skala nasional.
- BPA-free polymer lebih mudah dimodifikasi melalui perspektif desain, anti-bocor, ringan, dan relatif aman untuk wadah makanan. Hal tersebut menjadi faktor yang sering terlupakan dalam desain logistik besar.
Akan tetapi, polimer secara umum juga punya sisi gelap. Diantaranya:
- Degradasi termal jika sering terkena panas ekstrem. Sehingga perlu dicantumkan range temperatur aman yang boleh diterapkan dalam wadah polimer.
- Potensi masuknya microplastic ke dalam tubuh jika kualitas raw material buruk atau proses produksinya tidak sesuai standar.
- Perlunya adopsi standar internasional yang lebih mature ke standar nasional Indonesia (SNI) yang khusus diperuntukkan untuk wadah makanan polimer, yang hingga kini belum seketat SNI untuk stainless steel. Tak hanya wajib diadopsi secara pembuatan standarnya, akan tetapi kontrol ketat penerapannya melalui instansi-instansi terkait.

Dalam perspektif rekayasa industri, pendekatan terbaik untuk food tray MBG bukan dalam memilih antara stainless steel vs. polymer. Lebih pada mengoptimalkan design-to-function: (1) food tray untuk makanan panas bisa menggunakan SS304, sedangkan (2) untuk wadah kudapan, makanan ringan (snack), buah, atau distribusi jenis makanan tertentu boleh menggunakan BPA-free polymer.
Produksi food tray MBG menjadi penentu…
Proses produksi dan produk food tray MBG bukan sekadar objek, tetapi titik vital dalam sistem logistik nasional. Terutama jika kita mencermati bahwa anggaran-anggaran penting secara nasional kebanyakan dialihkan untuk program MBG. Food tray adalah salah satu tool utama yang sangat menentukan keberhasilan program MBG. Dari sebuah food tray MBG, dapat memunculkan persepsi serta menentukan:
- Seberapa baik kualitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dijalankan di bawah Badan Gizi Nasional (BGN). Dalam hal ini, terutama di seberapa sigap dapur SPPG dapat menjaga kualitas food tray dari mulai distribusi pertama, pencucian ulang, hingga menjaga nilai higienis food tray ketika dipakai ulang. Hal ini akan mempengaruhi throughput dari porsi-porsi MBG yang diproduksi oleh dapur SPPG.
- Seberapa tinggi tingkat keamanan pengolahan dan kebersihan makanan yang diproduksi dapur SPPG. Dari mulai proses menyiapkan bahan makanan, pengemasan ke dalam food tray MBG, hingga distribusi ke siswa-siswi di sekolah. Hal tersebut berpengaruh pada risiko kontaminasi pada makanan dan keracunan massal yang marak diberitakan sejauh ini.
- Seberapa lama program MBG sebagai program first tier bisa beroperasi tanpa adanya pemborosan anggaran negara. Mengingat biaya pengadaan food tray bisa menghabiskan miliaran rupiah dalam sekali cycle. Hal ini yang akhirnya menghadirkan saran untuk memperkuat industri dalam negeri dalam hal proses produksi. Sehingga tidak ada lagi ketergantungan dengan produk impor yang justru akan melarikan uang negara ke negara lain.
Dalam definisi engineering systems, food tray MBG merupakan sebuah component with cascading impact. Maksudnya, kesalahan kecil dalam pemilihan material atau desain akan berpotensi mengganggu jutaan titik pelayanan dan distribusi MBG ke sekolah-sekolah.
Momentum penguatan ekosistem produk Made In Indonesia yang berkualitas
Mencermati geliat industri nasional, termasuk di dalamnya klaim produsen lokal Indonesia siap memenuhi kebutuhan 70 juta food tray hingga akhir tahun 2025, seharusnya pemerintah bisa memberi ruang lebih luas untuk R&D dan produksi food tray MBG Made In Indonesia. Dari perspektif ini, kita bisa lebih memahami bahwa isu food tray MBG bukan sekadar pengadaan alat makan. Ini adalah momentum untuk memperkuat industri manufaktur nasional. Hal tersebut selaras dengan klaim dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa program MBG ikut mendongkrak perekonomian Indonesia.
Dan demi menuju keberhasilan penguatan tersebut, setidaknya ada 3 hal yang harus di-maintain:
- Standardisasi proses produksi (adopsi standar internasional ke SNI ditambah dengan standar halal). Ini bukan sekadar rekomendasi atau arahan, tapi sebuah kewajiban yang harus dipenuhi dan dikontrol ketat.
- Pemberlakuan audit menyeluruh terhadap supply chain pengadaan raw materials untuk produksi food tray MBG dan melakukan eliminasi praktik impor ilegal, apalagi yang mengarah pada korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
- Menggalakkan kolaborasi antara Badan Gizi Nasional, Kementerian Perindustrian, akademisi kampus, serta pelaku industri logam maupun polimer dalam negeri, dalam hal pengadaan dan produksi food tray MBG.
Ketika semua hal tersebut berhasil diberlakukan dan di-maintain, maka food tray MBG bukan hanya sekadar urusan remeh temeh alat makan. Food tray MBG akan menjadi simbol kebangkitan industri nasional, terutama dalam hal industri manufaktur, yang akan membawa dampak positif untuk kehidupan sosial. Karena program ini akan dapat menyatukan peran sains, teknologi aplikatif, kebijakan publik, industri manufaktur, dan upaya peningkatan kualitas nutrisi serta gizi pada anak-anak Indonesia.
Epilog
Food tray MBG pada akhirnya mengingatkan kita bahwa sebuah produk sederhana dapat membuka percakapan besar tentang sains, engineering, industri, dan masa depan gizi nasional. Di balik lengkung-lengkung food tray MBG, tersembunyi harapan dan upaya untuk membangun infrastruktur pangan yang lebih aman dan berkelanjutan (sustainable). Setiap penentuan material dan proses produksi menjadi cermin bagaimana Indonesia memandang kesehatan anak‑anak bangsa dan kualitas industri manufaktur kita sendiri. Pada akhirnya, inovasi tidak hanya lahir dari laboratorium atau divisi R&D dalam pabrik, tetapi dari keberanian mengambil langkah strategis dari hal‑hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari‑hari. Dan dari sebuah food tray, mungkin Indonesia sedang memulai perjalanan panjang menuju ekosistem industri yang lebih berkualitas, modern, dan manusiawi. Asalkan tidak hanya bertujuan untuk memperkaya diri/segelintir pihak yang terlibat di dalamnya, sehingga mengabaikan maslahat yang menjadi tujuan utamanya.






Leave a Reply