Menyekolahkan anak di luar negeri sering kali menjadi tantangan sekaligus pengalaman yang membuka mata. Bahkan, bagi kami yang sebelumnya telah menjalani proses kelahiran anak di Taiwan, masuk ke ranah pendidikan anak menjadi ‘to the next level’. Mengurus pendidikan anak usia dini di Belgia memberikan banyak pencerahan tentang bagaimana sebuah negara maju benar-benar berinvestasi pada generasi penerusnya. Yuk, baca lebih lanjut untuk mengetahui lebih banyak tentang sistem pendidikan dasar di Belgia! Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata kami menyekolahkan anak di wilayah Flanders (Flemish Region).
Pengalaman berharga dari Hartencollege Ninove
Perjalanan awal pendidikan anak kami dimulai dari Hartencollege Basisonderwijs Ninove (BON). Selama 1 tahun 3 bulan, sejak Mei 2025 hingga Agustus 2026. Kami memilih sekolah berbasis Katolik sebagai awalannya.
Mengapa?
Karena tidak adanya sekolah berbasis Islam di Ninove. Saat melakukan review, Hartencollege BON punya kurikulum yang cocok dengan visi keluarga kecil kami. Tanpa memaksakan terlalu jauh terkait praktik agama Katolik. Visi tersebut tentunya memiliki hubungan erat dengan latar belakang keyakinan kami sebagai Muslim. Rasanya agak berat jika “penyimpangan sosial” fundamental di masyarakat masuk ke kurikulum. Penyimpangan itu seringnya masih dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah umum di sekitar Ninove. Hartencollege BON tidak punya kurikulum eksplisit terkait hal itu. Hasilnya, Hartencollege BON memberikan kesan yang luar biasa bagi kami dan anak kami. Guru-gurunya sangat kreatif dalam membimbing dan mengawasi pola main serta belajar siswa di sekolah secara komprehensif. Mereka sangat terbuka untuk mendengarkan keluhan orang tua dan aktif melibatkan kami dalam pelbagai kegiatan parents’ community atau komite sekolah.
Satu hal lain yang membuat kami takjub adalah urusan finansial. Dalam setahun penuh, biaya yang kami keluarkan untuk sekolah di Hartencollege BON kurang dari 90 EUR. Secara kalkulasi, kami hanya mengeluarkan sekitar 7,50 EUR per bulan. Biaya sekecil itu sudah mencakup opvang (penjagaan dan penitipan saat makan siang). Note: Waktu makan siang dihitung sebagai jam istirahat bagi manajemen sekolah. Selain itu, biaya study tour, tiket indoor playground, kunjungan ke peternakan, kegiatan olahraga, dan tetek bengek lainnya sudah masuk juga.
Tunjangan pendidikan (Groeipakket)
Biaya sekolah yang hampir gratis ini masih dibarengi dengan dukungan kas pemerintah. Setiap anak yang berdomisili di Belgia berhak mendapatkan tunjangan pendidikan. Disebut groeipakket, yang besarnya berada dalam kisaran 150-200 EUR per bulan. Ada peningkatan tahunan tergantung pada penyesuaian persentase indeksasi dari pemerintah.
Di wilayah Flanders, groeipakket ini adalah hak anak yang diberikan secara otomatis dan tanpa syarat. Durasinya hingga akhir bulan ketika sang anak genap berusia 18 tahun. Menariknya, sistem perwalian negara berlanjut lebih dari sekadar usia sekolah dasar. Jika anak tersebut nantinya melanjutkan pendidikan tinggi atau mengikuti sistem studentenarbeid (bekerja sambil kuliah). Tunjangan ini masih dapat diperpanjang hingga batas usia maksimal 25 tahun, tentunya dengan syarat-syarat tertentu seperti pembatasan jumlah jam kerja.
Pindah kota, pindah sekolah: hunting sekolah di Flanders

Petualangan berlanjut saat kami harus pindah rumah dari Ninove ke Aalst. Mulai 1 September 2026, kami harus memindahkan anak kami ke salah satu Basisschool yang punya Kleuterklas (pendidikan kelas anak usia dini sampai TK) di area Karesidenan Aalst. Pencarian sekolah baru ini tidak memakan waktu lama, hanya sekitar dua pekan. Kebetulan, pemilik apartemen kami yang baru, sekaligus penghuni sebelumnya, adalah seorang guru. Beliau memberikan beberapa rekomendasi sekolah yang sesuai dengan profil kami dan dekat dari rumah. Tentunya yang bisa dijangkau dengan mobil ataupun bus dalam 10-15 menit.
Kepindahan anak kami dilakukan pada pekan terakhir musim panas sebelum masuk sekolah. Pendaftaran reguler secara standar selalu dimulai pada bulan Mei sebelum libur musim panas dimulai. Kami sangat terbantu oleh rekomendasi dari pemilik apartemen kami (landlord). Beliau menunjukkan satu platform resmi pemerintah Flanders. Sistem navigasi pendidikan bisa diakses melalui https://naarschoolinvlaanderen.be/.
Mekanisme pencariannya sangat praktis. Kita cukup melakukan beberapa filter: Selecteer de steden/gemeenten waar je je kind(eren) graag naar school laat gaan (memilih area kotamadya), selecteer het onderwijsniveau (level pendidikan), selecteer het onderwijstype (jenis sekolah), dan selecteer het geboortejaar (tahun kelahiran anak). Dari sana, platform akan menampilkan pemetaan sekolah mana saja yang masih memiliki kursi kosong. Datanya didapat berdasarkan pangkalan data terakhir pada bulan Mei.
Pendidikan adalah privilege: dialog yang mengubah sudut pandang
Berbekal informasi dari platform tersebut, kami berhasil mengamankan tempat dan diundang untuk bertemu langsung dengan kepala sekolah. Diskusi di momen inilah yang menurut kami menjadi landasan filosofis atau pemahaman inti dari sistem pendidikan di Belgia, atau setidaknya di Flanders.
Seperti biasa, pendaftaran diawali dengan pengisian borang-borang data diri. Data tersebut bersinggungan dengan data diri anak dan orang tua. Lalu ada juga alasan kepindahan, moedertaal (bahasa yang dipakai sehari-hari di rumah), kemampuan awal bahasa anak. Bahkan kewarganegaraan, hingga latar belakang pekerjaan dan pendidikan orang tua juga tak luput dari permintaan informasi. Di sinilah letak percakapan paling krusial. Pertanyaan pertama dari ibu kepala sekolah adalah, “Detail pendidikan terakhir orang tuanya apa, ya?”
Otomatis kami bertanya, “Ayah dan ibunya, atau salah satu saja?”
Kebetulan kami memiliki background akademis yang cukup baik. Ayahnya bergelar Doctor of Philosophy di bidang Materials Science and Engineering dan ibunya bergelar Master of Science di bidang yang sama. Bersyukurnya lagi, kami pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi bereputasi di Indonesia dan Taiwan sebelum kepindahan kami ke Belgia.
Ibu kepala sekolah lantas menjawab, “Ibunya saja, karena itu yang paling krusial.”
Sontak kami bertanya berbarengan, “Waarom?” (Mengapa?). Percakapan saat pendaftaran sekolah tersebut 90% menggunakan bahasa Belanda Flemish dicampur sedikit bahasa Inggris.
Pendidikan ibu (opleidingsniveau van de moeder) adalah koentji
Beliau menjawab kalem namun menohok, “Kalian tahu tidak kalau pendidikan kedua orang tua itu sangat penting untuk perkembangan anak? Nah, case kalian, ayahnya bekerja dan ibunya masih memilih menjadi full-time housewife serta pengajar privat bagi anak kalian sendiri di rumah. Maka pendidikan ibu adalah tolok ukur yang paling utama.”
Kami menyimak dengan saksama dan sesekali mengangguk. Lalu beliau melanjutkan, “Kalau ibunya punya pendidikan baik bahkan sampai pascasarjana, maka kami sebagai guru dan manajemen sekolah menganggap anak ini punya privilege baik dalam pendidikannya. Tanpa perlu terlalu dikontrol ketat di luar jam sekolah, kami menganggap ia akan mudah mengikuti kurikulum pendidikan Flanders.”
“Sedangkan,” tambahnya, “kalau orang tuanya, terutama ibu yang mengurus rumah tangga, latar belakang pendidikannya hanya tamatan Middelbare (setara SMP-SMA) atau bahkan kurang dari itu, kami menganggap perlu adanya perhatian khusus kepada si anak didik. Sehingga kami pun akan mengajukan tunjangan tambahan kepada pemerintah untuk sekolah kami, karena ada anak yang latar belakang orang tuanya dianggap ‘kurang’ dari apa yang semestinya didapatkan secara ideal.”
Di situ kami bergumam hampir bersamaan, “Wow!”
Ternyata sekolah tidak hanya bertugas menyodorkan silabus kepada anak. Tetapi juga melakukan pemetaan presisi terhadap ekosistem intelektual di rumah si anak agar dukungan dana pemerintah disalurkan tepat sasaran. Pendidikan yang tinggi diakui murni sebagai privilege yang memfasilitasi kelancaran adaptasi seorang anak.
Imbas untuk anak
Tingkat pendidikan ibu (opleidingsniveau van de moeder) digunakan oleh pemerintah Flanders sebagai salah satu indikator Gelijke Onderwijskansen (GOK). GOK adalah indikator kriteria kesetaraan yang dipakai oleh pemerintah Belgia. Imbas jika ibu dari siswa tidak memiliki ijazah pendidikan setara SMA:
- Prioritas pendaftaran: Anak bisa mendapatkan hak prioritas saat mendaftar di sekolah yang kuotanya padat demi memastikan kesempatan belajar yang setara.
- Subsidi tambahan untuk sekolah: Sekolah tempat anak belajar akan menerima dana anggaran tambahan dari pemerintah. Hal itu untuk menyediakan fasilitas pengajaran ekstra, bimbingan bahasa, atau bantuan belajar kelompok.
- Akses kegiatan: Biaya untuk studi wisata, kunjungan museum, dan kegiatan ekstrakurikuler disubsidi agar semua siswa dapat ikut serta.
- Remedial dan pendampingan: Siswa yang tertinggal dalam pelajaran mendapatkan bimbingan belajar tambahan di sekolah.
- Kesejahteraan emosional: Sekolah fokus pada kesehatan mental dan rasa aman siswa, sehingga mereka merasa diterima dan termotivasi untuk belajar.
- Usaha pengurangan angka putus sekolah: Dengan bantuan moral dan materi, risiko siswa keluar dari sekolah sebelum lulus dapat ditekan.
- Bimbingan karier: Siswa diarahkan untuk memilih pendidikan lanjutan atau pekerjaan sesuai minat mereka, bukan berdasarkan keterbatasan ekonomi.
Menu makanan terstruktur untuk anak sekolah

Berbicara soal fasilitas, ada satu aspek krusial yang tidak luput dari perhatian kami: transparansi menu makan siang. Di sekolah baru anak kami, pihak sekolah menyediakan kalender menu bulanan secara terbuka. Dokumen itu bisa diakses oleh publik dan orang tua murid kapan saja. Melalui dokumen berformat PDF/Excel yang di-update tiap bulan, kami bisa memantau secara mendetail apa yang bisa disiapkan sebagai bekal anak. Menunya disusun sangat rapi dan proporsional, selalu ada kombinasi protein, karbohidrat, dan sayur, serta ditutup dengan buah atau dessert sehat.
Jika bekal tidak disiapkan oleh orang tua, maka sekolah menyediakan menu tersebut sesuai jumlah dan kuota permintaan. Disajikan oleh pihak manajemen dapur sekolah per hari sesuai pesanan. Jadi, jelas terhindar dari risiko makanan mubadzir. Tidak hanya itu, mereka juga menyertakan keterangan kandungan alergen pada setiap bahan makanan yang disajikan. Sehingga orang tua bisa merasa benar-benar aman melepaskan anaknya makan di sekolah tanpa was-was keracunan.
Karena kami memiliki concern tinggi terhadap makanan halal, kami selalu menyediakan bekal untuk anak kami.
Refleksi singkat untuk MBG di Indonesia
Kesiapan dan kematangan sistem ini secara tak langsung membuat kami berefleksi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia. Secara filosofis, MBG memiliki tujuan mulia untuk membangun generasi unggul dan menekan angka gizi buruk. Namun, realitas implementasinya di lapangan masih memiliki segudang pekerjaan rumah. Sekolah-sekolah di Flanders sudah menerapkan transparansi menu bulanan dan kontrol mutu yang ketat berbasis digital. Pelaksanaan MBG justru kerap diwarnai isu disparitas kelayakan gizi antardaerah dan krisis manajemen rantai pasok. Bahkan, persoalan krusial terkait pengawasan kebersihan dapur penyedia yang belum lama ini memicu kasus keracunan di beberapa wilayah. Komparasi ini menyadarkan kami bahwa program makan siang di sekolah tak sekadar urusan membagikan porsi makanan secara massal. Melainkan tentang tata kelola sanitasi, standardisasi nutrisi, dan transparansi informasi yang dibangun dari sistem yang sudah ajeg.
Pendidikan agama dan fleksibilitas birokrasi tunjangan pendidikan
Bergeser ke hal-hal penting lain. Dari dua institusi pendidikan Belgia yang pernah dimasuki anak kami, satu adalah sekolah berbasis Katolik dan satunya adalah sekolah negeri/umum. Keduanya memegang standar yang luar biasa tinggi di bidang manajemen. Hebatnya lagi, meski di sekolah negeri/publik, anak kami difasilitasi dengan guru pendamping untuk agama Islam, selain opsi Katolik, Kristen, dll. Hal itu disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Para guru pendamping tersebut siap membimbing sejak usia sekolah dasar (SD). Ini adalah anugerah kelegaan yang besar bagi kami sebagai orang tua Muslim yang bermukim di negara yang bukan mayoritas Muslim.
Proses birokrasi pergantian sekolah pun jauh dari kata riweuh. Tunjangan groeipakket yang didapat terus ditransfer tiap bulan layaknya autopilot. Meski ada perpindahan nama institusi sekolah, berkat sistem finansial terpadu yang modern, hal itu bukan masalah. Berbeda halnya jika membandingkan birokrasi dan distribusi pendanaan serupa di Indonesia yang sering kali harus melalui jalan administratif yang panjang.
Oh iya, biaya sekolah di tempat yang baru nilainya relatif tidak berubah jika dibandingkan dengan sekolah yang lama. Jika dilihat dari nominal vs. gaji rata-rata pekerja di Belgia, bisa dibilang sih hampir gratis ya. Apalagi jika orang tua siswa punya pendapatan di atas rata-rata. Transparansi biaya sekolah dibahas bersama antara manajemen sekolah dan orang tua siswa dalam satu forum.
Komparasi sistem pendidikan Belgia secara umum

Sebagai gambaran makro, sistem pendidikan Belgia sangat terstruktur, namun berbeda-beda karena menganut model sistem pemerintahan federal. Otoritas pendidikan tidak berada di bawah satu kementerian pusat, melainkan diserahkan kepada komunitas bahasanya masing-masing. Ada Flanders (wilayah penutur bahasa Belanda Flemish), Wallonia (wilayah penutur bahasa Prancis), dan Belgia Timur (wilayah penutur bahasa Jerman).
- Flanders: Bahasa pengantar utamanya adalah bahasa Belanda Flemish. Sekolah dasarnya dikenal dengan sebutan basisonderwijs (penggabungan pendidikan anak usia dini, TK, dan SD). Kurikulum di sistem ini sering dianggap sedikit lebih cepat atau intensif dibandingkan dengan sistem Wallonia, sehingga prestisenya cukup tinggi.
- Wallonia: Menggunakan bahasa Prancis. Meski jenjangnya sama (6 tahun SD dan 6 tahun Middelbare), penerapan di lapangan kerap dirasa berjalan dengan kurikulum yang ritmenya sedikit lebih lambat daripada Flanders.
- Brussels: Tidak ada sistem pendidikan khusus di Brussels. Wilayah ini bilingual, di mana sekolah-sekolahnya ada yang dinaungi oleh sistem Flanders dan ada yang dinaungi oleh sistem Wallonia. Uniknya, banyak keluarga berbahasa Prancis memilih mendaftarkan anak mereka ke sekolah Flanders agar mendapat keuntungan kompetitif untuk menjadi bilingual.
- Belgia Timur: Sering disebut German-speaking area. Bahasa pengantar utamanya adalah bahasa Jerman, namun para murid sudah dibiasakan dengan bahasa Prancis sejak pendidikan prasekolah.
Secara keseluruhan di Belgia, usia pendidikan wajib dimulai dari usia 6 hingga 18 tahun. Namun, pada praktiknya, karena fokus utamanya pada play-focused learning, lebih dari 90% anak sudah mulai dimasukkan ke sekolah sejak usia prasekolah (2,5 tahun).
Jika dibandingkan dengan Indonesia yang saat ini menerapkan zonasi, di Belgia orang tua bebas memilih pendaftaran lintas daerah tempat tinggal. Asalkan sekolah yang dituju belum terisi penuh (full capacity). Sekolah di Belgia mayoritas disubsidi penuh oleh negara. Tak ada beda, entah itu sekolah negeri maupun sekolah swasta bersubsidi yang berafiliasi dengan lembaga agama, seperti sekolah Katolik dan lainnya.
Epilog
Pada akhirnya, kami belajar banyak dari pengalaman di atas. Dari Belgia kita bisa belajar bahwa fondasi pendidikan yang adil dibangun dengan mengenali privilege. Memberikan toleransi tanpa sekat mayoritas-minoritas, serta menyokong kesejahteraan siswa dengan sistem finansial yang terukur, tanpa kompromi.
Nah, jika kita menengok lagi di era saat ini, sejauh mana Indonesia menerapkan sistem pendidikan yang humanis?






Leave a Reply